Wajah itu

Sejauh ingatanku, pertama kali aku sadar menyukaimu adalah ketika aku rindu menyaksikan parasmu bercerita penuh antusias. 
Saat aku kecanduan melihatmu tersenyum lebar, sesekali terkekeh menertawakan ceritamu sendiri.

Tapi yang jadi favoritku adalah wajahmu saat keheranan, menyadari bagaimana kamu selalu memberikan kesempatan setelah berulang kali dipatahkan pada hubungan sebelumnya.
Kalau sedang begitu, alismu akan sedikit terangkat sebelah dan itu sangat menakjubkan! 
Sayang sekali, kamu tidak bisa meminjam bola mataku untuk melihat betapa kamu sangat mempesona kala itu. 

Aku juga ingat bagaimana mukamu saat ketakutan dan khawatir. Ada kalanya kamu terlihat sangat kebingungan, tapi aku tidak bisa apa-apa.
Ada hari-hari dimana wajah itu terasa dingin dan kehilangan pijarnya mempertanyakan kita, sedangkan aku terus berusaha menyangkalnya. 

Kata orang, cukup satu tatapan mata untuk menyadari bahwa seseorang tengah jatuh hati. Begitu juga sebaliknya. Pada suatu waktu, aku menyadari bahwa kamu telah kehilangan suar di matamu. Lalu kamu terus menampilkan mimik kasihan dan terpaksa saat bersamaku pada hari-hari selanjutnya. Sedangkan kamu tahu, mataku tidak pernah sekalipun kehilangan keyakinannya.

Malam ini aku mengambil jeda untuk mengingat wajah itu lagi. Wajah yang belakangan kuharap dapat kutemui di keramaian acak, saat aku melewati tempatku biasa mengantar atau menjemputmu, dan di tempat kita ketemu setiap waktu. Aku ingin tak sengaja menemui wajah itu lagi sambil membawa serta wajahku sendiri yang kini penuh ketidak yakinan bisa melepaskanmu pergi.

Komentar