Berawal dari perkenalan tidak sengaja, dalam pencarian teman untuk menertawakan dunia. Dan entah menemukan kepingan yang hilang itu terasa menghangatkan.
Bersenda, bersua, berkeluh, berbagi. Bermula biasa saja, tanpa ekspektasi apa-apa. Sampai suatu hari, ketika menanti di kolom notifikasi, ada gemuruh yang bergetar:
“Aku sudah sampai. Kabari ya kalau sudah sampai”
“Jangan lupa makan, nanti sakit”
Kalimat singkat yang berhasil membuat ruang itu berdebar. Ada seracik senyum kecil yang ikut mengembang lebar.
Kemudian, intensitas sapa mulai semakin mengencang. Banyak hal mulai ditukar: berbicara tentang riuhnya langit Jakarta, berandai tentang rindu yang menggebu, bahkan berimajinasi tentang kehidupan setelah kematian.
Lalu entah mengapa, tiba-tiba di satu malam menjelang penutupan, lidah secara tak sengaja mengucap namanya ke doa, masuk ke dalam daftar permintaan: -agar bisa menjadi salah satu alasannya bahagia.
Lalu sejak saat itu, sejak bumi terus berotasi, menyebutkan namanya adalah suatu kewajiban. Dihentakkan keras-keras dalam diam, aku mulai memaksa Tuhan untuk menjadikannya bentuk nyata dari menyusun sebuah masa depan adalah tentang berdua- bersamanya.
Hidup terasa begitu menyenangkan. Ada renjana tumbuh di dalamnya, bergelora yang mulai menghantam logika. Inikah akhir penantian?
—
Namun, lagi-lagi realita membuyarkan cerita indah Cinderella. Tuhan seperti mengajak bercanda. Di satu jeda pergantian, dalam dekap telepon genggam, muncul percikan:
Tidak ada kata sepakat.
Tidak ada kata sependapat.
Tidak ada kata mufakat.
Perdebatan kali ini ditutup oleh getir helaan napas panjang, mementaskan sebuah jawaban: mari merayakan kehilangan.
Walau tak pernah sekalipun memiliki, rasanya patah tetap sama. Kembali berhadapan dimana kalah adalah derana. Kembali berhadapan bahwa Tuhan hanya sekedar mengajarkan bertemu itu tak melulu harus bersatu.
Bahwa ternyata, bahagia tak pernah tertulis dan tak memilih bersanding setelah kata "kita".
Bahwa akhirnya, bukan bersama yang menanti di tepian, melainkan isak dan risau kesendirian.
Bahwa sekarang, kehilangan adalah sepatutnya perlu dirayakan.
Sepantasnya. Sekuatnya.
Merayakan mereka yang tak pernah sampai ke tujuan. Merayakan mereka yang pernah dekat, yang sekarang hanya berbentuk asa hampa yang di dekap.
Bersorak kehilangan, bersama kesendirian.
#29
Komentar
Posting Komentar