ARE U STILL THERE?

 Entah bagaimana, apa yang seharusnya kita katakan satu sama lain hilang seiring waktu, kata-kata kita tergerus seperti ombak yang menghantam batu. Seiring berjalannya waktu, arti kata-kata itu pun memudar. Sulit untuk mengingat malam-malam ketika kita begitu dekat, hampir tak bisa membedakan di mana satu tubuh berakhir dan yang lain dimulai. Momen-momen ini tidak meninggalkan bekas yang terlihat, tetapi di beberapa hari, aku berharap sebaliknya.


Aku ingin melihat kerak di tanganku dan mengingat bahwa di sinilah kau pernah menyentuhku. Di sinilah ujung jarimu membakar kulitku dan kulit itu tak pernah sembuh sepenuhnya. Kau tidak berhasil meninggalkanku bekas yang demikian, tapi kau tetap meninggalkan jejak yang sama, dan—apa yang kita miliki telah begitu jauh hilang sehingga di sebagian besar hari aku bahkan tidak merasakan jejaknya.


Tapi terkadang, saat aku menutup mata dan memikirkan senyummu, aku seolah mendengar suaramu di angin, dibawa oleh angin lembut yang mencium pipiku. Aku mendengar tawamu dalam gemerisik daun dan suara hujan yang jatuh di trotoar. Saat itulah aku tahu bahwa mungkin kita seharusnya bertahan sedikit lebih lama, dan di situlah aku merasa paling berat: bagaimana dua orang bisa berubah dan beradaptasi, membulatkan tepi-tepi tajam mereka agar lebih cocok satu sama lain, dan bagaimana mereka berjuang untuk mengurai kembali dua bagian dari keseluruhan setelah semuanya berakhir.


Kita menghabiskan begitu banyak hari mempelajari lekuk dan tepi serta kesalahan kita untuk memahami gambaran utuh, dan saat semuanya runtuh dan terbakar, kita berusaha sebaik mungkin untuk melupakan semuanya lagi. Cara kau berbicara lembut dalam tidurmu, bagaimana tanganmu harus selalu sibuk, bahwa kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya mempercayai seseorang. Aku sekarang tahu semua ini dan harus hidup dengannya. Dan aku bertanya-tanya apa gunanya—mengapa aku berusaha keras mengenalmu hanya untuk melupakanmu lagi.


Rasanya seperti aku sudah mempersiapkan diri untuk melepaskanmu sejak pertama kali jarimu menyentuh milikku.

Komentar